Bg

Berita - IAIN Surakarta

Menghidupkan Ruang Diskusi, DEMA FIT Adakan Lesehan Teras Tarbiyah Via Zoom

25 Maret 2021

Ruang-ruang diskusi ilmiah di lingkungan Fakultas Ilmu Tarbiyah tetap hidup walau masa pandemi belum berakhir. Tentunya kegiatan tidak dilaksanakan secara offline, akan tetapi secara online via Zoom Meeting Fakultas Ilmu Tarbiyah. Hal ini bisa dilihat dari kegiatan “Lesehan Teras Tarbiyah” dengan tema “Aktualisasi Mahasiswa Di Era Pandemi”, yang diadakan oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah (DEMA FIT) pada hari Kamis, 25 Januari 2021.

“Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan wadah bagi mahasiswa/i sebagai tempat untuk menambah wawasan pengetahuan terhadap isu-isu atau fenomena yang sedang terjadi” ujar M Amirul Mu’minin selaku ketua penyelenggara.

Acara berjalan dengan lancar dengan dihadiri 138 peserta dari berbagai program studi yang berbeda, tidak hanya dari mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah IAIN Surakarta saja, namun juga mahasiswa dari fakultas lain juga ikut serta berpartisipasi dalam acara ini.

Pemateri dalam kegiatan ini adalah Bapak Hakiman S.Pd.I, M.Pd, Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah IAIN Surakarta, beliau memaparkan mengenai bagaimana seharusnya mahasiswa dalam mengoptimalkan dirinya pada saat pandemi seperti ini.

Bapak Hakiman menyampaikan bahwa aktualisasi adalah mengoptimalkan kemampuan diri yang ada di dalam diri manusia (dalam hal ini mahasiswa) untuk menggapai cita-cita masa depan.

“Jangan sampai mahasiswa bersikap ragu-ragu, tidak optimis, dan tidak percaya diri” tegasnya.

“Allah mengeluarkan diri kita dari perut ibu-ibu kita dalam keadaan tidak tahu apa-apa, dan allah menjadikan diri kita, memberikan kita hati nurani, pendengaran, penglihatan, potensi indrawi, mulai dari penciuman, peraba, pendengaran, maka dari itu kita jangan kalah dengan orang yang disabilitas, yang kekurangan fisik tapi mereka tidak patah semangat dalam menjalani hidup” katanya.

Bapak Hakiman menjelaskn bahwa ada 2 hal yang diberikan Allah kepada manusia : (1) Hidayatul Aqliyah, potensi akal manusia. Akal menjadi penting bagi kita untuk memahami Al-Qur’an. Akal harus terus diasah, akan tetapi jangan sampai akal menguasai kita. Akal akan berkembang jika terus dilatih, dan semakin tajam dalam menganalisa isu dan fenomena; (2) Hidayatul Diniyah, potensi keagamaan. Hal ini menjadi penting yang harus ditanamkan sebaik mungkin dengan cara beragama sebaik mungkin.

Menurutnya, mahasiswa harus mampu memiliki 3 kecerdasan, (1) Cerdas Intelektual. Dengan cara belajar, berorganisasi, mengikuti seminar, aktif di majelis ilmu, membaca buku, dsb. (2) Cerdas Sosial, maka mahasiswa harus bisa memadukan kecerdasan intelektual dengan kehidupan sosial, menghargai orang lain, toleransi. (3) Cerdas Emosional yakni tidak mudah marah, mencaci maki, mengadu domba, maupun menyalahkan orang lain.

“Kita dapat melakukan gerakan-gerakan yang mampu mengoptimalkan diri sendiri, Gerakan Spiritual dengan melakukan hal-hal yang berkaitan dengan peningkatan kualitas diri dengan menjalankan perintah Allah SWT; Gerakan Intelektual yakni tidak hanya menunggu tapi bagaimana mahasiswa menambah wawasan dengan diskusi-diskusi, seminar, menggunakan kesempatan luang untuk gerakan intelektual; dan Gerakan Sosial yakni mahasiswa jangan menjadi sosok yang apatis. mahasiawa perlu melakukan gerakan sosial, misalnya saling mengingatkan prokes, peduli terhadap orang lain. Jadi bukan hanya demo dijalan, membakar ban di jalan, dan teriak-teriak” pungkasnya.

Materi bisa didownload disini